Profil gereja

Sejarah Gereja

Mengenal perjalanan panjang dan pelayanan setia gereja kami.



KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan atas penyertaan-Nya dalam perjalanan pelayanan Jemaat BNKP Soromaasi. Sejarah jemaat bukan hanya rangkaian tahun dan pergantian pelayan, tetapi kesaksian tentang tumbuhnya iman, pendidikan, persekutuan, pembangunan rumah ibadah, serta pengabdian para pendahulu dari generasi ke generasi.

Naskah ini disusun kembali dari dokumen berbahasa Nias berjudul “Waõ-waõ Duria Somuso Dõdõ ba Gosali Soromaasi Tahun 1911”. Susunan aslinya terutama berbentuk catatan kronologis. Dalam edisi ini, isi tersebut ditata menjadi bab, uraian, tabel, dan garis waktu agar lebih mudah dipahami, dibacakan dalam kegiatan jemaat, serta dijadikan bahan dokumentasi dan pembelajaran.

Penyusunan kembali ini tetap mempertahankan nama-nama tokoh, istilah pelayanan, angka, dan tanggal sebagaimana tercantum dalam sumber. Beberapa bagian yang belum lengkap—misalnya tanggal pelantikan tertentu dan daftar pengurus periode tertentu—ditandai secara terbuka agar tidak menimbulkan kesan seolah-olah data yang tidak tercatat telah dilengkapi.

Kiranya dokumen ini memperkuat rasa syukur, tanggung jawab, dan semangat melayani seluruh warga Jemaat BNKP Soromaasi. Koreksi dari para pelaku sejarah, keluarga tokoh, dan warga jemaat tetap diperlukan untuk penyempurnaan pada edisi berikutnya.


BAB I — CATATAN PENYUSUNAN DAN ISTILAH

1. Dasar Penyusunan

Dokumen ini sepenuhnya bertumpu pada naskah sejarah Jemaat BNKP Soromaasi yang memulai catatannya pada tahun 1911 dan mengakhiri narasinya pada serah terima pelayanan tahun 2020. Penyusunan kembali dilakukan dengan memindahkan data ke dalam urutan periode, tanpa menambahkan fakta eksternal yang tidak tercantum dalam sumber.

2. Prinsip Penyajian

1. Kronologi disusun berdasarkan tahun dan tanggal yang tertulis dalam naskah sumber.

2. Nama orang, gelar, nama tempat, dan sebutan tradisional dipertahankan sedekat mungkin dengan ejaan sumber.

3. Istilah pelayanan BNKP/Nias tetap digunakan apabila padanan Indonesianya tidak sepenuhnya pasti.

4. Data yang kosong, terputus, atau belum jelas tidak diisi dengan perkiraan; bagian tersebut diberi catatan untuk diverifikasi.

3. Istilah yang Dipertahankan

IstilahKeterangan Penggunaan

GosaliGereja atau rumah ibadah.Satua Niha KerisoPelayan/penatua jemaat dalam istilah yang digunakan oleh naskah sumber.Sinenge/ZinengeSebutan pelayan jemaat yang dipakai dalam naskah; dalam dokumen ini dipertahankan sebagai istilah historis.Guru Jemaat/GuruPelayan yang menjalankan pengajaran, pendidikan, dan pelayanan jemaat.MiguIbadah hari Minggu.Tebayagõ idanõUngkapan dalam sumber yang digunakan dalam konteks baptisan; pada uraian ini disajikan sebagai “menerima baptisan”.


Catatan: Karena sumber asli berbahasa Nias dan sebagian istilah memiliki nuansa gerejawi-historis, dokumen ini mengutamakan ketepatan data daripada membuat terjemahan bebas yang berpotensi mengubah makna.


BAB II — MASA PERINTISAN DAN LAHIRNYA JEMAAT (1911–1917)

1. Keadaan Awal dan Kerinduan Mendapat Pelayanan

Pada permulaan tahun 1911, menurut naskah sumber, belum terdapat orang Kristen di wilayah Soromaasi. Di tengah keadaan tersebut, tumbuh kerinduan dari para salawa atau tokoh masyarakat untuk menghadirkan seorang guru. Tokoh yang secara khusus disebut ialah A. Gahõwa, yang berupaya meminta penempatan guru meskipun pada awalnya belum semua pemimpin mempunyai pandangan yang sama.

2. Kedatangan Guru Sitefano

Usaha A. Gahõwa akhirnya membuahkan hasil. Pada tahun 1911, Guru Sitefano yang berasal dari Waekhu, Resort Ombolata, ditempatkan di Soromaasi. Karena rumah guru belum tersedia, ia tinggal di rumah Hulula’imba (A. Wõtõ) selama sekitar tiga tahun.

Pelayanan awal tidak terpisah dari pendidikan. Guru Sitefano mengajar anak-anak di sekolah, dan pada hari Minggu mengadakan ibadah di rumah A. Wõtõ. Pada masa itu, kehadiran dalam ibadah masih didominasi oleh anak-anak; orang tua belum banyak ikut serta.

3. Rumah Guru dan Pendidikan Calon Baptisan

Pembangunan rumah guru mulai disiapkan pada akhir tahun 1913 dan dapat ditempati pada tahun 1914. Setahun kemudian, yaitu pada tahun 1915, dicatat sebanyak 29 orang dewasa masuk dalam pendidikan atau sekolah persiapan baptisan. Mereka menerima pengajaran firman Tuhan selama lebih kurang dua tahun.

4. Baptisan Pertama Tahun 1917

Pada tahun 1917, 29 orang tersebut menerima baptisan. Peristiwa ini dipandang sebagai awal lahirnya persekutuan orang Kristen di Soromaasi. Pada tahun yang sama Guru Sitefano pindah ke Lulu Noyo dan pelayanan dilanjutkan oleh Guru Fagõlõsi.

Tahun/TanggalPeristiwa Penting

1911A. Gahõwa memperjuangkan penempatan guru; Guru Sitefano dari Waekhu, Resort Ombolata, tiba di Soromaasi.1911–1914Guru Sitefano tinggal di rumah Hulula’imba (A. Wõtõ); sekolah dan ibadah Minggu berlangsung di rumah tersebut.Akhir 1913Pembangunan rumah guru mulai dilaksanakan.1914Rumah guru mulai ditempati.1915Sebanyak 29 orang dewasa mengikuti pendidikan persiapan baptisan selama sekitar dua tahun.1917Sebanyak 29 orang menerima baptisan; Guru Sitefano pindah ke Lulu Noyo dan digantikan Guru Fagõlõsi.


BAB III — PERTUMBUHAN IMAN DAN PELAYANAN (1918–1940)

1. Pelayanan Guru Fagõlõsi dan Pertambahan Jemaat

Guru Fagõlõsi mulai melaksanakan pelayanan pada tahun 1918. Naskah sumber menggambarkan adanya perkembangan dan kebangunan iman yang semakin kuat. Pada tahun 1918, sebanyak 62 orang menerima baptisan; kegiatan tersebut disebut berlangsung di Losu. Pertambahan berlanjut pada tahun 1921 sebanyak 59 orang dan pada tahun 1923 sebanyak 231 orang.

Bertambahnya warga jemaat menimbulkan kebutuhan akan tempat ibadah yang lebih memadai, sebab Losu yang digunakan pada masa itu tidak lagi cukup menampung jemaat. Dari sinilah muncul dorongan untuk membangun gereja.

2. Pergantian Pelayan Tahun 1923–1941

Pada akhir tahun 1923 Guru Fagõlõsi berpindah. Pelayanan kemudian dilanjutkan oleh Zinenge Elifita. Setelah Zinenge Elifita meninggal pada tahun 1926, pelayanan tahun 1926–1927 diteruskan oleh Guru Domitiano, yang kemudian menjadi pendeta. Pada masa pelayanannya, sumber mencatat 122 orang menerima baptisan pada tahun 1926.

Pada tahun 1928 Pendeta Domitiano berpindah dan digantikan oleh Guru Lofania/Ama Naami sampai tahun 1931. Selanjutnya, pada tahun 1932–1941 pelayanan dilaksanakan oleh Guru Habali/A. Waudu’aro.

3. Kebangunan Pelayanan Tahun 1939

Pada awal tahun 1939 dimulai kegiatan persekutuan dan pelayanan yang lebih intensif. Pada triwulan keempat tahun 1939, naskah mencatat suatu kegiatan “fangesa dõdõ” yang dilayani Zinenge Seti’eli/A. Mbõwõ’aro dari Gereja Hilibadalu, Idanõ Gawo. Sekitar 200 orang disebut mengalami dampak pelayanan tersebut. Pada akhir tahun 1940, pembangunan gereja yang telah lama direncanakan mulai dikerjakan.

PeriodePelayanCatatan

1918–akhir 1923Guru FagõlõsiMemulai pelayanan tahun 1918; pertumbuhan baptisan dan gagasan pembangunan gereja.Akhir 1923–1926Zinenge ElifitaMelanjutkan pelayanan setelah kepindahan Guru Fagõlõsi.1926–1927Guru/Pendeta DomitianoMenjadi pengganti setelah wafatnya Zinenge Elifita.1928–1931Guru Lofania/Ama NaamiMenggantikan Pendeta Domitiano.1932–1941Guru Habali/A. Waudu’aroMelayani pada masa persiapan dan pembangunan gereja pertama.1939Zinenge Seti’eli/A. Mbõwõ’aroMelayani kegiatan kebangunan/penginjilan dari Gereja Hilibadalu, Idanõ Gawo.


4. Data Baptisan yang Tercatat

TahunJumlahKeterangan

191729 orangBaptisan pertama; menjadi awal persekutuan orang Kristen di Soromaasi.191862 orangBaptisan berikutnya; sumber menyebut pelaksanaannya di Losu.192159 orangPertambahan warga jemaat.1923231 orangPertambahan besar yang memperkuat kebutuhan pembangunan gereja.1926122 orangDicatat pada masa pelayanan Pendeta Domitiano.


Catatan: Angka 200 orang pada tahun 1939 dicatat sebagai orang yang terkena dampak kegiatan “fangesa dõdõ”, bukan secara tegas sebagai jumlah baptisan. Karena itu angka tersebut tidak digabungkan ke dalam tabel baptisan.


BAB IV — PEMBANGUNAN GEREJA DAN PENGUATAN JEMAAT (1940–1949)

1. Pembentukan Pelayan Jemaat Awal

Seiring pertumbuhan jemaat, pelayanan tidak hanya bertumpu pada guru atau sinenge. Naskah mencatat pengangkatan sejumlah Satua Niha Keriso yang mendampingi pelayanan dan menjadi bagian penting dalam pembangunan kehidupan jemaat.

TahunNamaKeterangan

1918Sanõtõna/A. ZiragiSatua Niha Keriso awal pada masa Guru Fagõlõsi.1918Faedo-faedoMelayani sampai sekitar tahun 1931; sumber menyebut kemudian berhenti karena keadaan keluarga.1923Gasambõwõ Gulõ/A. ZefaniaBerasal dari Hilimbõwõ; berhenti sebagai Satua Niha Keriso pada 1935.1932Faehumbõwõ/A. Zi’atiDitetapkan sebagai Satua Niha Keriso di Hilimbõwõ.1932MahambõwõDitetapkan di Soromaasi menggantikan Faedo-faedo; berhenti sekitar 1935.1937Yo’eli/A. EndiaDari Hilimbõwõ.1937Side-ide/A. NadiaDari Sisarahili Lõlõfitu.1937Faedo bo’o/A. ZalatõDari Bawõdesõlõ.1939Elia/A. WatiDitetapkan di Soromaasi.1941Sa’adõdõ/A. ZamiraDitetapkan di Soromaasi.


2. Persiapan dan Pendirian Gereja Pertama

Pada 8 Oktober 1940, para tukang gereja dipanggil untuk memulai pekerjaan. Kepala tukang adalah Simoni/A. Zikoli dari Lalimanawa, yang sebelumnya terkait dengan pembangunan Gereja Sifaoro’asi. Ia dibantu oleh A. Ziragi dari Soromaasi, A. Zi’ati dari Hilimbõwõ, Weni’eli/A. Aliba dari Soromaasi, dan Budego/A. Marase dari Soromaasi.

No.NamaAsalPeran

1Simoni/A. ZikoliLalimanawaKepala tukang2A. ZiragiSoromaasiTukang/pelaksana3A. Zi’atiHilimbõwõTukang/pelaksana4Weni’eli/A. AlibaSoromaasiTukang/pelaksana5Budego/A. MaraseSoromaasiTukang/pelaksana


Pada 2 Januari 1941 gereja pertama di Soromaasi didirikan. Naskah menyebut keterlibatan Pdt. Sohahau Mendrõfa dari Sifaoro’asi. Delapan Satua Niha Keriso bersama para salawa memberikan dukungan, termasuk menyediakan tiga ekor babi, yang menunjukkan semangat kebersamaan masyarakat pada waktu itu.

Tanggal 27 Mei 1941 menjadi tahap penting berikutnya: atap seng dipasang dan bangku-bangku dikerjakan. Karena gereja lama telah sangat lapuk dan tidak ada tempat lain yang memadai, ibadah Minggu mulai dilaksanakan di gereja baru meskipun penyempurnaan bangunan belum sepenuhnya selesai.

Pada masa pembangunan, rumah guru juga mengalami kerusakan. Pembangunan rumah guru baru harus menunggu gereja selesai, sehingga guru sempat tinggal di rumah warga, antara lain di rumah La’igi’õ/A. Andea di Soromaasi dan kemudian di rumah Dezudõdõ/A. Zõrõna di Hilimbõwõ. Dalam masa tanpa guru tetap, pelayanan gereja ditopang oleh Satua Niha Keriso.

3. Penguatan Pelayanan Tahun 1941–1948

Mulai tahun 1941, Zinenge Talidõdõ La’ia dari Hililaza ditempatkan untuk melaksanakan ibadah Minggu dan pendidikan Kristen. Tahun 1942, Hinombõwõ Halawa dari Lõlõfitu ditetapkan sebagai Satua Niha Keriso. Pada masa yang sama Elia Zai dari Soromaasi menjadi sinenge dan kemudian ditempatkan di Gereja Lewuõmbanua, Resort Sifaoro’asi. Pada 1 Januari 1942 Hukumbõwõ/A. Esina Gulõ dari Hilimbõwõ juga ditetapkan sebagai Satua Niha Keriso.

Guru Badugõ dari Hinako kemudian menggantikan Guru Habeli. Pada tahun 1943 dicatat 10 orang menerima baptisan. Pada tahun yang sama Zinenge Fatõmbõwõ Halawa dari Sifaoro’asi ditempatkan di Soromaasi selama sekitar sembilan bulan sebelum berpindah ke Lewuõmbanua.

Tanggal 5 Maret 1944 ditetapkan dua Satua Niha Keriso, yaitu Sa’ambõwõ Halawa dari Hiligodu dan Simeoni Zai. Pertambahan melalui baptisan terus tercatat: 100 orang pada tahun 1945, 73 orang pada tahun 1946, 40 orang pada tahun 1947, dan 11 orang pada tahun 1948.

Naskah juga mencatat masuknya agama atau gerakan AMIN pada tahun 1946 yang dibawa oleh Saderachi dari Ma’u, serta penyampaiannya di Gereja Soromaasi pada tahun 1947. Catatan tersebut ditempatkan sebagai bagian dari tantangan yang dihadapi jemaat, sekaligus menegaskan keyakinan akan pemeliharaan Tuhan atas umat-Nya.

4. Pembangunan Rumah Sekolah Tahun 1948–1949

Pada akhir tahun 1948, jemaat berinisiatif membangun rumah sekolah karena bangunan sekolah di Hili Moi telah rusak dan tidak lagi tersedia guru. Rumah sekolah didirikan di lokasi gereja lama pada 4 Desember 1948 dan selesai pada 1 Mei 1949.

Tokoh-tokoh yang dicatat turut memimpin dan mendukung pekerjaan tersebut adalah:

No.Nama

1Tambalina A. Edia2A. Zamira3A. Hese4A. Daliso5A. Watisa


5. Ringkasan Baptisan Tahun 1941–1948

Tahun/TanggalJumlahKeterangan

1 Januari 1941126 orangSumber menyebut mereka berasal dari latar non-Kristen.194310 orangBaptisan di Gereja Soromaasi.1945100 orangPertambahan warga jemaat.194673 orangPertambahan warga jemaat.194740 orangPertambahan warga jemaat.194811 orangPertambahan warga jemaat.


BAB V — KONSOLIDASI PELAYANAN DAN PEMBANGUNAN (1959–1994)

1. Pembangunan Gereja Periode 1959–1962

Setelah beberapa tahun digunakan, gereja lama kembali mengalami kerusakan. Para pelayan gereja—sinenge, Satua Niha Keriso, para salawa, tokoh masyarakat, dan warga jemaat—membangun kesepakatan untuk mendirikan gereja yang lebih baik. Pengumpulan dana dimulai pada tahun 1959, pembangunan dilaksanakan pada tahun 1960, dan bangunan selesai pada tahun 1962.

2. Perkembangan Pelayanan Tahun 1960-an sampai 1980-an

Pada masa tersebut terjadi beberapa pergantian pelayan. A. Wati Zai berpindah untuk melayani di Gehosachozi, Distrik Sifaoro’asi, dan digantikan oleh Sinenge Sa’aki Halawa dari Gambukha. Setelah beberapa tahun, Sa’aki Halawa kembali ke Gambukha.

Pelayanan selanjutnya dijalankan oleh Aseri Waruwu/A. Rudi dari Gereja Ambukha, Distrik Sifaoro’asi, pada tahun 1965–1969. Pada tahun 1970 Aseri Waruwu berpindah ke Gereja Wangõ, lalu digantikan oleh Sinenge Talini Halawa/A. Nuti dari Gereja Soliga, Hilizoliga, Distrik Sifaoro’asi.

Talini Halawa/A. Nuti mengakhiri masa pelayanan karena pensiun pada 2 Oktober 1983. Penggantinya adalah Natigõ Halawa/A. Idaman Halawa yang mulai melayani pada tanggal yang sama. Acara pemberkatan atau pengutusan pada waktu itu dilayani oleh Pdt. Ys. Harefa, S.Th.

PeriodePelayanKeterangan

Tidak disebutkanSinenge Sa’aki HalawaDari Gambukha; menggantikan A. Wati Zai.1965–1969Aseri Waruwu/A. RudiBerasal dari Gereja Ambukha, Distrik Sifaoro’asi.1970–2 Oktober 1983Talini Halawa/A. NutiBerasal dari Gereja Soliga, Hilizoliga; berakhir karena pensiun.Mulai 2 Oktober 1983Natigõ Halawa/A. Idaman HalawaMenggantikan Talini Halawa/A. Nuti.


3. Pelayanan Pendeta Tahun 1984–1991

Setelah Pdt. Ys. Harefa, S.Th berpindah pada triwulan keempat tahun 1984, pelayanan dilanjutkan oleh Pdt. Fatiziduhu Zebua/A. Feri. Berikutnya Pdt. Ta’ondasi Daeli, B.Th melayani sampai dilakukan serah terima pada 30 Juli 1990. Setelah Pdt. Ta’ondasi Daeli berpindah, pelayanan diteruskan oleh Pdt. Aluizaro Lase/A. Yaki’eli dari Jemaat Lõlõwua, dengan serah terima pada 11 April 1991.

4. Pembangunan Gereja Baru Tahun 1994

Pembangunan gereja baru memasuki tahap penting pada hari Rabu, 4 Mei 1994, ketika fondasi atau pekerjaan awal bangunan dilaksanakan. Walaupun pembangunan belum sepenuhnya rampung, gereja baru mulai digunakan pada peringatan Kenaikan Tuhan Yesus, Kamis, 12 Mei 1994.

Panitia pembangunan gereja yang dicatat dalam naskah adalah sebagai berikut:

JabatanNamaKeterangan

Ketua IA. Dama ZaiKepala Desa HilimbuasiKetua IIA. Edison Zai—Ketua PelaksanaA. Salena Halawa—SekretarisA. Anuarti Zai—BendaharaA. Yason Zai—


Catatan: Sumber tidak mencantumkan tanggal penyelesaian akhir bangunan tahun 1994. Yang tercatat secara tegas ialah tanggal pekerjaan awal/fondasi dan tanggal mulai digunakan untuk ibadah.


BAB VI — PERKEMBANGAN ORGANISASI DAN PELAYANAN (2004–2020)

1. Pergantian Pendeta Jemaat Tahun 2004–2011

Setelah Pdt. Aluizaro Lase berpindah, pelayanan dilanjutkan oleh Pdt. Yafeti Halawa, B.Th dari Hilinawalõ Mazingõ. Serah terima dilaksanakan pada Minggu, 7 Maret 2004, oleh Bendahara Umum BNKP Pdt. Kalebi Hia, S.Th., M.Th. Naskah mencatat bahwa kegiatan tersebut berlangsung dalam suasana duka atas wafatnya A. Gati Halawa, orang tua Guru Jemaat A. Idaman Halawa.

Pdt. Yafeti Halawa kemudian berpindah dan digantikan oleh Pdt. Martinus Harefa, S.Th dari Alo’oa. Pada saat yang sama Guru Jemaat Natigõ Halawa memasuki masa pensiun. Serah terima kepada Pdt. Martinus Harefa dilaksanakan pada Minggu, 5 April 2009, oleh Ketua BPMS BNKP Pdt. Riter Dachi, M.Th. Natigõ Halawa kemudian kembali ditetapkan sebagai Guru Jemaat Evangelis di Jemaat BNKP Soromaasi.

Pdt. Martinus Harefa selanjutnya berpindah dan digantikan oleh Pdt. Firman Yamonaha Zega, S.Th dari Jemaat Hosiana Gunungsitoli. Serah terima dilaksanakan pada Minggu, 20 Desember 2009, oleh Bendahara Umum BNKP Pdt. Bewamati Zega, M.Th.

Pdt. Firman Yamonaha Zega kemudian melanjutkan studi di UKSW Yogyakarta. Penggantinya adalah Pdt. Yusti Ester Telaumbanua, S.Th dari Sisambua Lahe, Jemaat Onowaembo. Serah terima dilaksanakan pada Minggu, 19 Juni 2011, oleh anggota BPMS BNKP Pdt. Beniyamin Gulo, S.Th., M.A., M.Min.

TanggalPendeta JemaatKeterangan

7 Maret 2004Pdt. Yafeti Halawa, B.ThSerah terima oleh Pdt. Kalebi Hia, S.Th., M.Th.5 April 2009Pdt. Martinus Harefa, S.ThSerah terima oleh Ketua BPMS BNKP Pdt. Riter Dachi, M.Th.20 Desember 2009Pdt. Firman Yamonaha Zega, S.ThSerah terima oleh Pdt. Bewamati Zega, M.Th.19 Juni 2011Pdt. Yusti Ester Telaumbanua, S.ThSerah terima oleh Pdt. Beniyamin Gulo, S.Th., M.A., M.Min.


2. Penataan Organisasi Berdasarkan Tata Gereja 2007

Pada masa pelayanan Pdt. Firman Yamonaha Zega, naskah mencatat penerapan Tata Gereja Tahun 2007 yang telah diperbarui dan ditetapkan oleh BPHMS-BNKP. Dalam kerangka tersebut, dibentuk badan pelayanan periode 2007–2012 berupa Majelis Jemaat, BPMJ, dan BPPJ. Pemberkatan/pelantikan para pelayan dilakukan oleh Sekretaris Umum BNKP, Pdt. Atur Kian Lase, S.Th.

a. Majelis Jemaat Periode 2007–2012

No.NamaJabatanUnsur

1Pdt. Firman Yamonaha Zega, S.ThKetuaPendeta2Agustinus ZaiAnggotaKomisi SM3Yoti’aro WaruwuAnggotaSNK Ling. 44Elizaman Zai, A.MdAnggotaKomisi Diakonia5Fatou’õsa ZaiAnggotaSNK Ling. 16Faowanolo ZaiAnggotaSNK Ling. 27Yasombõwõ ZaiAnggotaSNK Ling. 38Eliyusu ZaiAnggotaSNK Ling. 59Tawa’õli ZaiAnggotaSNK Ling. 610Yuniaro HalawaAnggotaSNK Ling. 711Eriman MendrõfaAnggotaKomisi Perempuan12Sinema ZaiAnggotaKomisi Bapak13Faanõ HalawaAnggotaKomisi M G


Catatan: Dalam naskah sumber terdapat nomor urut 14 yang tidak diikuti nama atau keterangan. Karena tidak tersedia data, baris tersebut tidak diisi dalam dokumen ini.


b. BPMJ Periode 2007–2012

No.NamaJabatanUnsur

1Elizaman Zai, A.MdKetuaKomisi Diakonia2Agustinus ZaiSekretarisKomisi SM3Yoti’aro WaruwuBendaharaSNK Ling. 44Pdt. Firman Yamonaha Zega, S.ThAnggotaPendeta5Yasombõwõ ZaiAnggotaSNK Ling. 36Eliyusu ZaiAnggotaSNK Ling. 57Sinema ZaiAnggotaKomisi Bapak


c. BPPJ Periode 2007–2012

No.NamaJabatanUnsur

1Seti ZaiKetuaWarga Jemaat2Edison ZaiAnggotaWarga Jemaat3Paliato HalawaAnggotaWarga Jemaat4Niati HalawaAnggotaWarga Jemaat


3. Periode Pelayanan 2012–2017

Pada tahun 2012, masa pelayanan badan-badan periode 2007–2012 berakhir dan dilakukan pembentukan badan pelayanan periode 2012–2017 melalui persidangan Majelis Jemaat. Naskah menyebut bahwa pelantikan dilakukan oleh Pendeta Resort 23 BNKP, Pdt. Sama’aro Harefa, S.Th. Namun, tanggal persidangan, tanggal pelantikan, dan daftar nama badan pelayanan periode 2012–2017 tidak dicantumkan dalam naskah sumber.

4. Pelayanan Tahun 2015–2020

Pada 12 Juni 2015 pelayanan Pdt. Yusti Ester Telaumbanua, S.Th berakhir karena sakit. Sambil menunggu pendeta definitif, Praeses Resort 23 BNKP Pdt. Bazatulo Laoli, S.Th ditetapkan sebagai Pelaksana Tugas mulai 12 Juni 2015.

Pendeta definitif berikutnya adalah Pdt. Setiaman Zega, S.Th, berasal dari Nikootano, Alo’oa, Kecamatan Gunungsitoli Barat. Ia dilantik pada 27 September 2015 oleh Praeses Resort 23 BNKP Pdt. Bazatulo Laoli, S.Th.

Pada tahun 2017 berakhir masa pelayanan badan pelayanan periode 2012–2017 dan dibentuk badan pelayanan periode 2017–2022. Pelantikan dilaksanakan pada 9 April 2017 oleh Pendeta Resort 23 BNKP/Praeses Pdt. Bazatulo Laoli, S.Th.

Pada 13 September 2020, masa pelayanan Pdt. Setiaman Zega, S.Th berakhir karena berpindah ke Jemaat BNKP Resort 53. Penggantinya adalah Pdt. Syukur Eman Telaumbanua, S.Th dari Hiliduho. Pelantikan dan serah terima dilaksanakan pada 20 September 2020 oleh Sekretaris Umum BNKP Pdt. Dorkas Orienti Daeli, M.Th.

TanggalTokoh/PeristiwaKeterangan

12 Juni 2015Pdt. Bazatulo Laoli, S.ThPelaksana Tugas setelah pelayanan Pdt. Yusti Ester Telaumbanua berakhir karena sakit.27 September 2015Pdt. Setiaman Zega, S.ThDilantik sebagai pendeta definitif.9 April 2017Badan pelayanan 2017–2022Dilantik oleh Pdt. Bazatulo Laoli, S.Th.13 September 2020Pdt. Setiaman Zega, S.ThMengakhiri pelayanan dan berpindah ke Jemaat BNKP Resort 53.20 September 2020Pdt. Syukur Eman Telaumbanua, S.ThPelantikan/serah terima oleh Pdt. Dorkas Orienti Daeli, M.Th.


BAB VII — GARIS WAKTU SEJARAH JEMAAT

Tahun/TanggalTahapPeristiwa Utama

1911PerintisanA. Gahõwa memperjuangkan penempatan guru; Guru Sitefano tiba dan memulai sekolah serta ibadah Minggu.1913–1914Sarana pelayananRumah guru dibangun dan mulai ditempati.1915–1917Lahirnya jemaat29 orang mengikuti pendidikan calon baptisan dan menerima baptisan pada 1917.1918–1926Pertumbuhan besarBaptisan tercatat 62 orang (1918), 59 orang (1921), 231 orang (1923), dan 122 orang (1926).1939–1940Kebangunan dan pembangunanKegiatan penginjilan/kebangunan melibatkan sekitar 200 orang; pembangunan gereja dimulai.2 Januari 1941Gereja pertamaGereja pertama didirikan di Soromaasi.27 Mei 1941Mulai digunakanAtap dan bangku dikerjakan; ibadah mulai berlangsung di bangunan baru.1941–1948Penguatan jemaatPelayanan guru/sinenge, penetapan Satua Niha Keriso, dan pertambahan baptisan.1948–1949Rumah sekolahDibangun 4 Desember 1948 dan selesai 1 Mei 1949.1959–1962Pembangunan gerejaPengumpulan dana, pembangunan, dan penyelesaian gereja.1965–1983Kontinuitas sinengePelayanan Aseri Waruwu dan Talini Halawa, kemudian Natigõ Halawa.1984–1991Pergantian pendetaPelayanan Pdt. Fatiziduhu Zebua, Pdt. Ta’ondasi Daeli, dan Pdt. Aluizaro Lase.4–12 Mei 1994Gereja baruPekerjaan awal/fondasi dan mulai digunakan pada Hari Kenaikan Tuhan Yesus.2004Pdt. Yafeti HalawaSerah terima pelayanan pada 7 Maret 2004.2009Dua pergantian pendetaPdt. Martinus Harefa mulai 5 April; Pdt. Firman Yamonaha Zega mulai 20 Desember.2011Pdt. Yusti Ester TelaumbanuaSerah terima pada 19 Juni 2011.2015Pdt. Setiaman ZegaDilantik sebagai pendeta definitif pada 27 September 2015.2017Badan pelayanan 2017–2022Dilantik pada 9 April 2017.2020Pdt. Syukur Eman TelaumbanuaPelantikan/serah terima pada 20 September 2020.


BAB VIII — NILAI-NILAI WARISAN SEJARAH

Dari seluruh catatan sejarah tersebut, terdapat beberapa nilai yang tampak berulang dan patut dipelihara oleh generasi Jemaat BNKP Soromaasi saat ini dan pada masa mendatang.

1. Iman yang bertumbuh dari kerinduan masyarakat

Perintisan jemaat berawal dari kerinduan tokoh lokal, khususnya A. Gahõwa, untuk memperoleh guru dan membuka jalan bagi pendidikan serta pemberitaan firman.

2. Pendidikan berjalan bersama pelayanan gereja

Sejak awal, sekolah anak dan ibadah Minggu berlangsung beriringan. Rumah guru dan rumah sekolah menjadi bagian penting dari pertumbuhan jemaat.

3. Pelayanan merupakan kerja bersama

Guru, pendeta, sinenge, Satua Niha Keriso, salawa, tukang, panitia, dan warga jemaat berpartisipasi sesuai perannya.

4. Pembangunan lahir dari pengorbanan

Pembangunan gereja dan sekolah dilakukan secara bertahap, melalui pengumpulan dana, tenaga, bahan, dan dukungan masyarakat.

5. Jemaat bertahan dalam perubahan dan tantangan

Pergantian pelayan, keterbatasan sarana, kerusakan bangunan, serta tantangan eksternal tidak menghentikan kesinambungan ibadah dan pengajaran.

6. Tata kelola pelayanan terus berkembang

Dari pola pelayanan awal berbasis guru dan Satua Niha Keriso, jemaat berkembang menuju struktur Majelis Jemaat, BPMJ, dan BPPJ sesuai tata gereja.

BAB IX — PENUTUP

Sejarah Jemaat BNKP Soromaasi memperlihatkan perjalanan panjang sejak masa ketika belum ada orang Kristen di wilayah tersebut, hingga terbentuknya jemaat yang memiliki rumah ibadah, pelayanan pendidikan, pelayan jemaat, pendeta, dan struktur organisasi yang semakin tertata. Setiap tahap dibangun di atas iman, ketekunan, dan pengorbanan banyak orang.

Dokumen ini diharapkan menjadi bahan ingatan bersama, pendidikan bagi generasi muda, dan sumber refleksi dalam pelayanan. Sejarah tidak berhenti pada tahun 2020; karena itu pencatatan perlu dilanjutkan secara berkala, terutama mengenai perkembangan jemaat, pelayanan pendeta, kepengurusan, pembangunan, kegiatan kategorial, dan peristiwa penting lainnya.

Kiranya Tuhan memelihara Jemaat BNKP Soromaasi, meneguhkan persatuan seluruh warga, dan memampukan setiap generasi melanjutkan kesaksian iman yang telah dirintis sejak tahun 1911.

“Fahasaradõdõ, Fa’atulõ, ba Fa’auri ba Lalau Lowalangi.”

LAMPIRAN 1 — REKAPITULASI DATA BAPTISAN

Tahun/TanggalJumlah Orang

191729191862192159192323119261221 Januari 19411261943101945100194673194740194811Jumlah berdasarkan angka yang tercatat863


Catatan: Jumlah 863 orang merupakan penjumlahan administratif atas angka baptisan yang secara eksplisit tercantum dalam naskah. Angka tersebut tidak dimaksudkan sebagai jumlah anggota jemaat pada satu waktu tertentu dan tidak memperhitungkan perpindahan, kematian, atau data lain yang tidak tersedia.


LAMPIRAN 2 — TONGGAK PEMBANGUNAN SARANA

WaktuSaranaKeterangan

Akhir 1913–1914Rumah guruMulai dibangun dan kemudian ditempati sebagai sarana pelayanan.1940–1941Gereja pertamaTukang dipanggil 8 Oktober 1940; gereja didirikan 2 Januari 1941; mulai digunakan setelah pekerjaan atap dan bangku 27 Mei 1941.4 Desember 1948–1 Mei 1949Rumah sekolahDibangun di lokasi gereja lama.1959–1962Gereja berikutnyaPengumpulan dana 1959, pembangunan 1960, selesai 1962.4–12 Mei 1994Gereja baruPekerjaan awal/fondasi 4 Mei; mulai digunakan pada Kenaikan Tuhan Yesus 12 Mei 1994.


LAMPIRAN 3 — CATATAN DATA YANG PERLU DIVERIFIKASI

Hal yang DiverifikasiKeterangan

Ejaan nama tokohBeberapa nama menggunakan ejaan Nias lama dan nama panggilan “A.”. Perlu verifikasi keluarga atau arsip jemaat untuk penulisan resmi.Tanggal pelantikan 2012–2017Naskah menyediakan titik-titik dan tidak mencantumkan tanggal persidangan maupun pelantikan.Daftar badan pelayanan 2012–2017Naskah menyebut akan menampilkan nama, tetapi daftar tidak terdapat pada dokumen yang tersedia.Majelis Jemaat nomor 14 periode 2007–2012Nomor urut 14 kosong dalam naskah sumber.Penyelesaian akhir gereja tahun 1994Naskah hanya mencatat pekerjaan awal 4 Mei dan mulai digunakan 12 Mei 1994.Istilah historisMakna rinci beberapa istilah seperti “fangesa dõdõ” dan fungsi “sinenge” dapat diperdalam melalui tokoh adat/gereja dan arsip BNKP.




SUMBER PENYUSUNAN

Naskah utama: “Waõ-waõ Duria Somuso Dõdõ ba Gosali Soromaasi Tahun 1911”, dokumen sejarah Jemaat BNKP Soromaasi, 9 halaman. Naskah memuat catatan kronologis dari tahun 1911 sampai serah terima pelayanan tahun 2020.

Penyusunan kembali dilakukan dengan mempertahankan data inti, nama tokoh, tahun, tanggal, dan struktur organisasi yang terdapat dalam naskah. Dokumen ini tidak menggunakan sumber eksternal untuk menambah fakta sejarah.